Loading...

Kamis, 12 Februari 2009

Manajemen Aset dan Liabilitas (ALMA)

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS (ALMA)

Pendahuluan

Asset and Liability Management ( ALMA) adalah suatu usaha untuk mengoptimumkan struktur neraca bank sedemikian rupa agar diperoleh laba maksimal dan sekaligus membatasi resiko menjadi sekecil mungkin.

Dalam mempelajari ALMA ada kategori resiko antara lain:

  1. Resiko dibidang kredit.
  2. Resiko di bidang Liquiditas ( bank tidak dapat membayar kewajiban pada waktunya atau hanya dapat membayar dengan melakukan pinjaman darurat atau menjual aktiva.
  3. Resiko tingkat suku bunga ( Resiko akibat perubahan suku bunga)
  4. Resio nilai valuta asing ( kerugian akibatperubahan kurs)
  5. Resiko di bidang kontijen (resiko akibat transaksi kontijen)

Untuk meminimalkan resiko-resiko tersebut diperlukan kerangka proses ALMA (ALMA frame work) yaitu:

Ø Adanya penetapan kebijakan dan strategi ALMA oleh organisasi yang berwenang

Ø Adanya tujuan dan arah bagi manajemen dan petugas pelaksana

Ø Adanya pngumpulan data internal atau data eksternal yang dapat menunjang keputusan ALMA untuk jangka panjang maupun jangka pendek

Ø Adanya analisis yang mengembangkan scenario untuk menguji berbagai alternatif strategi ALMA

Ø Ada Manajemen gap yang bertujuan untuk memaksimalkan pendapatan dan memperkecil resiko

Ø Adanya manajemen valas yang mengella bsarnya gap tiap-tiap mata uang dalam pembukuan bank

Ø Adanya manajemen pricing yang menjamin bahwa strategi penetapan tingkat bunga dapat dapat menunjang proses pelaksanaan manajemen gap,liquiditas dan manajemen valas

Organisasi ALMA terdiri dari Asset Liability Committee (ALCO) dan ALCO Support Group (ASG). Anggota ALCO terdiri dari pimpinan unit kerja operasional dan unit kerja yang berhubungan dengan tugas ALMA. Sedangkan anggota ASG terdiri dari sekelompok manajer/staf profesionalyang bertugas membantu ALCO.

Dalam organisasi tersebut ditetapkan tanggung jawab ALCO, yaitu menetapkan tujuan, membuat keputusan ALMA, mementau kegiatan dan menelaah hasil kebjakan ALMA. Sedangkan tanggung jawab ASG adalah mengumpulkan data internal dan eksternal, emnyusun analisis, mengembangkan strategi dan scenario, membuat laporan, mengajukan saran-saran untuk rapat ALCO dan memantau pelaksanaannya. Proses pembuatan kebijakan ALMA dilakukan olh direksi bank. Kebijakan yang dimaksud antara lain berupa penetapan limit dan target setiap bidang, rasio-rasio strategi pendanaan dan penenaman dana,struktur neraca, kebijakan harga, kebutuhan modal, dll.

Fungsi-Fungsi ALMA

Manajemen Likuiditas

Manajemen likuiditas adalah kemampuan manajemen bank dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi semua kewajiban-kewajiban maupun komitmen yang telah dikeluarkan kepada nasabahnya setiap saat. Pengelolaan likuiditas tersebut dilakukan untuk memenuhu pekerjaan-pekerjaan sbb:

  1. Kemampuan untuk memprediksi kebutuhan dana di masa yang akan datang
  2. Mencari sumber dana untukmencukupi jumlah yang dibutuhkan
  3. Melakukan penatausahaan untuk arus dana yang masuk dan keluar

Selanjutnya ada resiko dalam pengelolaan likuiditas bank

1. Resiko pendanaan (funding risk)

2. Resiko bunga (interest risk)

Alat ukur likuiditas bank antara lain:

Ø Statuori Reserve Requirement (Giro wajib minimum/GMW)

GMW= saldo giro pada BI >5%

Kewajiban pd pihak ketiga periode 2 minggu sblmnya

Ø Basic Surplus, yakni pengukuran besarnya likuiditas pada suatu keadaan tertentu yang diukur dengan rumus:

Basic Surplus = Aktiva lancar – passiva lancar

Klasifikasi angka basic surplus

1. Positif : Penempatan jangka dana pendek didukung dengan sumber dana jangka panjang

2. Negatif : Penempatan dana jangka panjang didukung dengan sumber dana jangka pendek

3. Nol : Penempatan dana jangka pendek didukung dengan sumber dana jangka pendek

Alat untuk mengukur rasio likuiditas jangka panjang antara lain:

a) Rasio Likuiditas

Liquidity Ratio = New Purchased funds required

Total Funding Requirement

Purchased funds Required yaitu proses perubahan aktiva dikurangi dengan proyeksi perubahan passive pada neraca bank. Total funding requirement yaitu jumlah dana (passive) yang dibutuhkan pada tanggal tertentu dimasa yang akan datang.

b) Indeks Likuiditas

Liquidity Index = Total weight liability

Total weighted assets

c) Loan to Deposits (LDR)

LDR = Pinjaman yang diberikan

Dana Masyarakat

Bank dinyatakan sehat apabila tingkat LDR antara 85% - 110%

Terkait dengan penggunaan likuiditas, strategi manajemen yang diambil sangat tergantung pada skill manajer likuiditas yang ad, keandalan Management Information System (MIS) yang dimiliki serta perlu mempertimbangkan kondisi likuiditas bank dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Agar strategi liquiditas menjadi efektif maka kebijakan likuiditas juga harus dipadukan dengan kebijakan unit operasional.

MANAJEMEN GAP (MISMATCH)

Pergertian

Manajemen GAP adalah upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (GAP) antara asset dan liabities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal jumlah dana, suku bunga, saat jatuh tempo (maturity) atau perpaduan antara ketiganya (kesenjangan tercampur atau mix match). Atau dengan kata lain menejemen GAP adalah upaya untuk mengatasi perbedaan (mismatch) antara asset sensitif terhadap bunga (Rate Sensitive Assets /RSA) dan pasiva yang sensitive terhadap bunga (Rate Sensitive Liabilities/RSL).

Dalam neraca bank hampir selalu terjadi ketidakseimbagan antara sumber daya di sisi liabilities dengan penggunaan dana di sisi asset. Manajemen GAP bertujuan untuk :

· Menghindari kerugian akibat dari gejolak tingkat bunga.

· Mengusahakan pendapatan yang maksimal dalam batas risiko tertentu.

· Menunjang kebutuhan manajemen likuiditas.

· Mengelola risiko serendah mungkin.

· Menyusun struktur neraca yang dapat meningkatkan kinerja dengan tingkat suku bunga yang wajar.

Pengukuran GAP

Pengukuran besarnya gap antara sisi aktiva dengan sisi pasiva diukur dengan menggunakan Interest maturity ladder, yaitu berupa suatu tabel yang disusun dari aset dan liabilities yang dikelompokkan menurut periode peninjauan bunganya. Besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian yang akan timbul dari perubahan tingkat bunga tersebut. Besarnya gap dapat berubah membesar atau mengecil karena transaksi-transaksi yang dilakukan.

Strategi Manajemen Gap

Perubahan suku bunga akan menimbulkan dampak yang tidak sedikit terhadap struktur neraca maupun kinerja bank. Oleh karena itu timbul upaya-upaya untuk mengelola Interest rate Management, yaitu suatu kegiatan untuk menata interest rate secara simultan atau bersamaan antara sisi asset maupun sisi liabilities sehingga dapat diperkecil dampak negatif perubahan suku bunga terhadap target pencapaian pendapatan bersih yang stabil dan berkembang.

Hal penting dalam penataan manajemen gap :

· Jangka waktu

· Repricing

· Interest rate

· Acceleration of Change

Tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki struktur neraca maupun kinerja adalah :

· Menata kembali komponen-komponen asset dan liabilities yang sensitive terhadap suku bunga.

· Melakukan analisis risiko gap.

· Kebijakan besarnya limit gap.

Dalam pelaksanaan pengambilan kebijakan oleh manajemen bank, apakah akan mengambil posisi gap positif atau negatif tergantung pada tiga hal :

· Perkiraan arah perkembagan tingkat bunga.

· Tingkat keyakinan manajemen terhadap prakiraan tersebut.

· Keberanian bank untuk mengambil risiko jika tindakan yang diambil keliru.

Agar strategi gap pada suatu bank dapat efektif harus didukung oleh kibijakan pricing yang yang sesuai dan adanya infrastruktur yang dapat memberikan data RSA dan RSL dengan cepat dan kontinyu untuk keperluan analisis.

Pengaruh Strategi Gap terhadap Pendapatan

Dalam menentukan strategi gap senantiasa dipertimbagkan risiko yang akan dihadapi yakni dengan menetapkan target/ limit risiko sampai pada tingkat tertentu yang dapat diterima.

MANAJEMEN VALUTA ASING

Pengertian

Manajemen valuta asing adalah suatu kegiatan membeli atau menjual mata uang suatu Negara. Kegiatan jual beli valuta asing membentuk suatu pasar yang disebut dengan pasar valas. Pasar valas dapat dikatakan sebagai transaksi jual beli melalui jaringan komunikasi antara bank-bank, brokers atau deler di seluruh dunia yang dilakukan di ruangan masing-masing bank yang telah dilengkapi dengan jaringan komunikasi. Secara garis besar tindakan manajemen valas dapat berupa :

· Pengendalian kesejahteraan mata uang asing.

· Pengendalian keuntungan netto dari nilai tukar.

Instrument valas

1. Transaksi SPOT

Adalah transaksi valas secara tunai di mana penyeraha valutanya dilakukan dua hari kerja setelah tanggal transaksi denga nilai tukar yang telah disepakati sebelumnya.

2. Transaksi Forward

Adalah transaksi valas secara berjangka dimana penyerahan valutanya dilakukan pada suatu tanggal tertentu di kemudian hari.

3. Transaksi SWAP

Adalah pertukaran dua valuta asing yang berbeda melalui penjualan secara tunai dan pembelian kembali secara berjangka atau transaksi valas yang simultan antara transaksi SPOT dengan transaksi FORWARD, atau sebaliknya.

Instrumen pasar uang

a. Penempatan antar bank

Adalah penempatan dana lebih pada bank lain yang memerlukan untuk suatu jangka waktu tertentu, tujuannya untuk memperoelh pendapatan yang lebih banyak selagi kelebihan dana tersebut belum dimanfaatkan.

b. Pinjaman antar bank

Adalah meminjam dana pada bank lain untuk keperluan menutup kekurangan dana valas atau untuk mendapatkan sumber dana valas yang lebih murah.

c. Instrumen pasar uang

· Foreign exchange (FX) loan dan deposit.

· Call dan notice loan dan deposit

· Repo/reverse repos

· Bankers acceptance

· Certificates of deposit

· Commercial paper

· Treasure bills (T-Bills)

Securities

Adalah transaksi membeli atau menjual surat-surat berharga yang dapat dinegosiasikan untuk mendapatkan laba dari perbedaan tingkat bunga/ kurs.

Tujuan Kegiatan Valas

Valas dapat diperjualbelikan oleh perorangan, perusahaan maupun bank-bankn untuk membiaya impor atau menukarkan valas hasil ekspor ke mata uang lain. Alas an bank terjun ke transaksi valas dengan alasan :

· Untuk member service kepada nasabah

· Untuk kepentingan bank sendiri

· Untuk memperoleh keuntungan (spekulasi)

Dalam kegiatan valas dikenal dua golongan transaksi, yakni transaksi komersial dan transaksi spekulatif. Transaksi komersail terjadi bila transaksi tersebut dilakukan untuk keperluan perusahaan atau nasabah, bukan untuk bank. Sedang untuk transaksi spekulatif adalah dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan bagi bank yang bersangkutan dari fluktuasi nilai tukar mata uang.

Risiko Kegiatan Valas

Jenis-jenis risiko yang dapat muncul dari kegiatan valas :

a. Risiko mata uang

b. Liquidity risk

c. Interest rate risk

d. Credit risk

Perubahan nilai tukar suatu mata uang dapat terjadi setiap saat, karena berbagai peristiwa seperti:

· Tingkat suku bunga dalam negeri dapat memenuhi nilai mata uang.

· Neraca perdagangan suatu Negara dapat member dorongan yang kaut terhadap nilai tukar uang.

· Ketidakpastian politik.

· Menguatnya harga barang-barang ekspor.

· Satu atau lebih Bank Sentral.

· Perubahan suku bunga di pasar-pasar uang terkemuka.

· Pecahnya suatu perang besar.

Posisi Devisa Neto ( Net Open Position/NOP)

Bank dikatakan mempunyai posisi long dalam suatu mata uang apabila aktiva valas lebih besat dari aktiva dalam mata uang tersebut. Sedangkan posisi short apabila pasiva valas lebih besar dari aktiva valas dalam mata uang yang bersngkutan. Apabila jumlah akiva dan pasiva adalah sama, maka bank dikatakan dalam posisi square.

Manajemen Valas

Ada 2 tujun pokok dalam pengelolaan valas yaitu:

  1. Mengelola jumlah dan risiko valas keseluruhan terkait dengan kesenjangan pada mata uang asing
  2. Memaksimalkan pendapatan valas bank dengn bats-batas risiko yang dapat diterima.

Adanya ririko pada transaksi valas menyebabkan perlunya ditetapkan serangkaian parameter dan limit. Dalammenempatkan limit tersebut, manajemen valas harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Komposisi suatu mata uang yang dipelihara bank bergantung dari kuat atau lemahnya suatu mata uang.
  2. Ketentuan posisi devisa neto yang ditetapkan Bank Indonesia.
  3. Tujuan penetapan besarnya limit harus terpadu dengan tujuan manjemen likuditas dan gap.
  4. Besarnya limit untuk masing-masing dealer dikaitkan dengan tingkat kemahiran dan pengalaman..
  5. Secar periodic ditetapkan limit masing-masing valas untuk intraday, overnight dan week end.
  6. Limit cut loss yang mencakup seluruh posisi jual beli, yaitu limit yang mensyaratkan posisi tertentu yang harus dilikuidasi/dieksekusi bila kerugian telah melampaui jumlah yang ditetapkan.
  7. Pendelegasian wewenang tertentu kepada chief dealer dan dealer lainnya untuk melakukan kegiatan dalam sublimit yang diberikan.
  8. Penetapan credit lines bagi seluruh “dealing counterparties”

Manajemen princing

Pengertian

Manajemen princing adalah suatu kegiatan manajemen untuk menentukan tingkat suku bunga dari produk-produk yang ditawarkan bank, abik disisi aset maupun liabilities. Tujuan utama dari manejemen princing tersebut adalah untuk mendukung strategi dan taktis ALMA bank dalam mencapai tujuan-tujuan operasional lainnya dan mencapai tujuan penghasilan bank.

Penetapan tingkat suku bunga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dikelompokan sebagai berikut:

  1. Kelompok pinjaman, faktor-faktor tersebut adalah cost of funds, premi risiko, biaya pelayanan.
  2. Kelompok simpanan, yang mempertimbangkan adalah cost of funds, biaya pelayanan, termasuk biaya overhead dan personel, marjin keuntungan, struktur target maturity, pricing yield curve simpanan berjangka dan cadangan wajib minimum likuiditas.

Penetapan Suku Bunga Pinjaman

Pada dasarnya pricing pinjaman harus ditetapkan minimal dapat menutupi semua biaya yang berkaitan dengan pinjaman sehingga diperoleh pengembalian yang memadai. Tingkat suku bunga tersebut ditetapkan atas dasar metode pricing yang rasional dengan mempunyai 5 komponen utama, yaitu:

  1. Cost of funds, seluruh biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan dana tersebut.
  2. Premi risiko industri yang bervariasi menurut jenis industri, mencerminkan risiko dari suatu industri tertentu, berubah bila kondisi industri itu berubah, dan didasarkan pada latar belakang kolektibilitas serta prakiraan sekarang tentang prospek industri..
  3. Premi risiko perusahaan/debituryang mencerminkan risiko berkaitan dengan debitur-debitur tertentu, merupakan antisipasi terhadap penghapusan pinaman, menutupi biaya pinjaman non lancer da kemungkinan dipengaruhi oleh struktur pinjaman.
  4. Biaya pelayanan termasuk biaya personel dan biaya overhead.
  5. Marjin keuntungan yang disesuaikan dengan risiko kredit yang kemungkinan timbul dan disesuaikan dengan situasi persaingan atau untuk mencapai tujuan-tujuan strategis.

Untuk lebih memudahkan pemahaman tentang pricing pinjaman dapat dikatakan sebagai harga jual pinjaman yang sudah mencakup seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank termasuk untuk menutup risiko serta memberikan suatu tingkat keuntungan tertentu. Lending rate ( LR ) dirumuskan sebagai berikut:

LR=COM+RISK COST+SPREAD

  1. com( Cost Of Money merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk pinjaman yang terdiri dari biaya seluruh dana yang dapat dipinjamkan dan biaya overhead
    1. Cost Of Loanable Fund (COLF) adalah seluruh biaya dana yang dikeluarkan untuk mendpatkan dana termasuk cadangan yang diperlukan.
    2. Cost Of Fund (COF), terdiri dari biaya-biaya sebagai berikut:

ØBiaya bunga dana, yaitu seluruh biaya dan yang dibayarkan kepada nasabah simpanan baik dalam bentuk giro, deposito dan tabungan.

ØBiaya promosi dana, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka memperlancar pengerahan dana.

c. Overhead Cost (OHC) adalah biaya-biaya diluar biaya dan yang dipergunakan untuk mendukung pengerahan dana tersebut.

2 Risiko Kredit ( Risk Cost ) merupakan biaya ditanggung bank sebagai akibat kegagalan nasabah dalam melunasi kewajibannya.

3.Spread, merupakan bagian keuntungan yang ditargetkan oleh bank. Target keuntungan yang ingin dicapai pada umunya dijabarkan dalam besaran Return On Asset ( ROA).

Penetapan Suku Bunga Simpanan

Dalam hal ini terdapat 4 komponen utama yang menjadi biaya dari suatu simpanan, yaitu :

  1. Suku bunga yang dibayar kepada deposan berkaitan dengan simpananya atau suku bunga nominal.
  2. Biaya cadangn wajib likuiditas.
  3. Biaya pelayanan yang termasuk biaya personel dan biaya”overhead”.
  4. Marjin keuntungan termasuk target penghasilan dari sumber dan di pasar.

sumber : manajemen perbankan, Mudrajat Kuncoro

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar